Apalagi Tuhan, Anda Saja Tidak Akan Memberikan Kepercayaan kepada Manusia PECANDU PENGHAPUSAN DOSA
Question: Apakah mungkin terjadi ataukah sebaliknya, manusia-manusia yang selama hidupnya tidak jarang menyakiti, melukai, maupun merugikan orang-orang lainnya, bisa masuk surga dan bersatu dengan Tuhan yang katanya “maha murni”, hanya karena dihapus dosa-dosanya berkat menyembah Tuhan? Bukankah itu menyerupai dipersatukannya noda atau kotoran ke dalam sesuatu yang steril sifatnya, alias hanya mencemari?
Brief Answer: Cobalah Anda bertanya kepada diri Anda sendiri,
maukah Anda memberikan kepercayaan kepada mereka yang setiap harinya berdoa
memohon “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN DOSA” maupun “PENEBUSAN DOSA” untuk
dipercayakan menangani dan mengurusi pembukuan keuangan perusahaan Anda? Jangan
lupa, hanya seorang PENDOSA yang butuh “PENGHAPUSAN DOSA”, dimana “PENGHAPUSAN
DOSA” merupakan ideologi KORUP bagi KORUPTOR. Mereka bahkan tidak bersedia
untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan diri mereka sendiri, karenanya
untuk apakah juga Anda maupun Tuhan percaya pada klaim-klaim sang KORUPTOR DOSA
demikian?
PEMBAHASAN:
Iming-iming “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN DOSA”
MAUPUN “PENEBUSAN DOSA”, tidaklah kalah adiktif dan efek candu-nya daripada
DOSA dan MAKSIAT itu sendiri. Kita tahu bahwa “PENGHAPUSAN DOSA” (abolition of sins) butuh DOSA-DOSA untuk
dihapuskan, karenanya sifatnya selalu bundling alias satu kesatuan paket secara
komplomenter antara “PENGHAPUSAN DOSA” dan “DOSA-DOSA” itu sendiri.
Hanya seorang PENDOSA yang butuh PENGHAPUSAN DOSA. Yang terlebih parah dan
berbahaya (toxic), ialah bila
seseorang untuk setiap harinya MABUK serta KECANDUAN PENGHAPUSAN DOSA—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
- No.
4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
- No.
4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan
dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.”
- No.
4863 : “Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
tunjukkanlah aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
- No.
4864 : “Apabila ada seseorang yang masuk
Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat kemudian
disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii wa'aafini
warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku,
kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah aku
rizki).”
- No.
4865 : “Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya
saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha
Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika kamu
memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
- Aku
mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
Terdapat
dua jenis korupsi, yakni : “korupsi materi” dan “korupsi DOSA”. Pelaku yang
melakukan korupsi terhadap uang rakyat, disebut KORUPTOR. Sementara itu yang
para umat agama samawi yang setiap harinya melakukan “korupsi DOSA”, tidak
lebih mulia daripada para KORUPTOR yang disebut diawal, yakni disebut sebagai
KORUPTOR DOSA!
“Standar
moral” semacam apakah, yang menjadi sunnah nabi rasul Allah, sang kekasih Allah
yang disebut-sebut oleh ibu-ibu pengajian sebagai manusia paling sempurna,
paling baik, paling suci, paling baik, dan paling mulia? Berikut ini “standar
moral” tertinggi para umat muslim, maka jangan kaget terhadap “standar moral”
terendah para umat muslim—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
- No.
4891. “Saya pernah bertanya kepada Aisyah
tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berdoa
sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan
yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
- No.
4892. “Aku bertanya kepada Aisyah tentang
do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
- No.
4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukkan sesuatu yang telah aku
lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku lakukan.’”
- No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
- Aisyah
bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga kakinya
bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik yang dulu
maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi
seorang hamba yang banyak bersyukur?” [HR
Bukhari Muslim]
Semisal ada seseorang yang pandai menipu dan berkata
dusta (PENDOSA), lalu memohon diampuni / dihapus / ditebus dosa-dosanya. Lalu Tuhan
termakan kata-kata sang penipu yang pandai menjilat, akibatnya sang penipu
dimasukkan ke surga. Bukankah itu artinya Tuhan telah diperdaya oleh manusia
ciptaannya sendiri, sekalipun sudah jelas ucapan seorang PENDOSA tidak dapat
dipegang dan tidak dapat dipercaya kebenarannya.
Terhadap dosa-dosa saja, para agamais tersebut melakukan
korupsi, KORUPSI DOSA. Karenanya, para agamais tersebut lebih layak dijuluki
atau diberi gelar sebagai KORUPTOR.
Apa jadinya, bila Anda membiarkan pembukuan
keuangan perusahaan Anda dipegang dan dipercayakan kepada seorang KORUPTOR? Bila
jawaban Anda ialah, tegas berkata “TIDAK!”
terhadap para KORUPTOR berbusana agamais tersebut, maka terlebih-lebih Tuhan. Sesederhana
itu saja penjelasannya.