Tidak Ada Iming-Iming TO GOOD TO BE TRUE dalam Buddhisme, TRUTH ALWAYS BITTER

DEWA TIDAKLAH KEKAL, Dewa Tetap akan Meninggal dan Berpotensi Jatuh Lahir Kembali ke Alam NERAKA

Question: Tujuan akhir dari umat agama samawi seperti islam dan nasrani, ialah surga. Bagaimana dengan tujuan akhir dari agama Buddha?

Brief Answer: Tujuan akhir dari siswa Sang Buddha, ialah “terputusnya belenggu rantai karma” (break the shackle of kamma), sehingga tiada lagi kondisi untuk terlahir kembali. Cobalah tanyakan kepada diri Anda sendiri, bila Anda dapat memilih, maka Anda memilih untuk pernah terlahir ataukah tidak pernah terlahir sama sekali ke dunia ini, serta apakah Anda berminat untuk kembali dilahirkan, dimana tumimbal lahir bermakna bahwa Anda berpotensi terlahir kembali di alam surga, alam manusia, alam brahma, atau bahkan alam-alam rendah tanpa kebahagiaan seperti hewan, setan, asura, hingga neraka? Karena itulah, kelahiran kembali adalah dukkha itu sendiri, yakni siklus tumimbal lahir yang menyerupai “never ending stories”.

PEMBAHASAN:

Tidak ada yang lebih membosankan daripada film drama yang tidak ada habis-habisnya dan tidak berkesudahan, itulah “tumimbal lahir”, senantiasa “to be continue...”. Tidak ada jaminan kita dapat terlahir kembali sebagai manusia, dimana bahkan dewa di alam dewata yang meninggal dunia akibat tabungan karma baiknya telah menipis hingga habis, berpotensi untuk kembali terlahir dan jatuh ke alam neraka. Kita semua, tanpa terkecuali, telah pernah terlahir kembali sebagai raja, budak, bangsawan, rakyat jelata, cantik / rupawan, buruk rupa, miskin, hartawan, terpelajar, tidak berpendidikan, sehat, penyakitan, berkuasa, tertindas, bertubuh atletis, mengidap cacat fisik, cerdas, keterbelakangan mental, memiliki pengaruh, tersisihkan, berumur panjang, berumur pendek, serta akan kembali terlahir dalam kondisi-kondisi demikian, berulang-ulang, tanpa terhitung lagi jumlahnya.

Perihal nasib seorang dewa yang ibarat “tidak ada pesta yang tidak akan usai dan bubar”, kita dapat merujuk khotbah Sang Buddha dalam “Aguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha JILID II”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”, diterjemahkan dari Bahasa Pāi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta Press, Penerjemah Edi Wijaya dan Indra Anggara, dengan kutipan:

125 (5) Cinta Kasih (1)

“Para bhikkhu, ada empat jenis orang ini terdapat di dunia. Apakah empat ini?

(1) “Di sini, para bhikkhu, seseorang berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, demikian pula arah ke dua, arah ke tiga, dan arah ke empat. Demikian pula ke atas, ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala penjuru, dan kepada semua makhluk seperti kepada diri sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan cinta kasih, luas, luhur, tanpa batas, tanpa permusuhan, tanpa niat buruk.

Ia menikmatinya, menyukainya, dan mendapatkan kepuasan di dalamnya. Jika ia teguh di dalamnya, fokus padanya, sering berdiam di dalamnya, dan tidak kehilangannya ketika ia meninggal dunia, maka ia akan terlahir kembali di tengah-tengah para deva kumpulan Brahmā.

[Kitab Komentar : Dalam sutta ini, cinta kasih dihubungkan dengan jhāna pertama, belas kasihan dengan jhāna ke dua, kegembiraan altruistik dengan jhāna ke tiga, dan keseimbangan dengan jhāna ke empat. Akan tetapi, menurut sistem Theravāda yang berkembang, masing-masing dari tiga meditasi tanpa batas yang pertama dapat mengarah pada seluruh tiga jhāna, kecuali yang ke empat; hanya keseimbangan tanpa batas yang dapat mengarah pada jhāna ke empat.]

Umur kehidupan para deva kumpulan Brahmā adalah satu kappa. Kaum duniawi akan menetap di sana seumur hidupnya, dan ketika ia telah melewatkan keseluruhan umur kehidupan para deva itu, ia akan pergi ke neraka, ke alam binatang, atau ke alam para hantu menderita. Tetapi siswa Sang Bhagavā akan menetap di sana seumur hidupnya, dan ketika ia telah melewatkan keseluruhan umur kehidupan para deva itu, ia akan mencapai nibbāna akhir di dalam kehidupan yang sama itu.

Ini adalah kesenjangan, disparitas, perbedaan antara siswa mulia yang terpelajar dan kaum duniawi yang tidak terpelajar, yaitu, ketika ada alam tujuan masa depan dan kelahiran kembali.

(2) “Kemudian, seseorang berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang dipenuhi dengan belas kasihan, demikian pula arah ke dua, arah ke tiga, dan arah ke empat. Demikian pula ke atas, ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala penjuru, dan kepada semua makhluk seperti kepada diri sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan belas kasihan, luas, luhur, tanpa batas, tanpa permusuhan, tanpa niat buruk.

Ia menikmatinya, menyukainya, dan mendapatkan kepuasan di dalamnya. Jika ia teguh di dalamnya, fokus padanya, sering berdiam di dalamnya, dan tidak kehilangannya ketika ia meninggal dunia, maka ia akan terlahir kembali di tengah-tengah para deva dengan cahaya gemerlap.

Umur kehidupan para deva dengan cahaya gemerlap adalah dua kappa. Kaum duniawi akan menetap di sana seumur hidupnya, dan ketika ia telah melewatkan keseluruhan umur kehidupan para deva itu, ia akan pergi ke neraka, ke alam binatang, atau ke alam para hantu menderita. Tetapi siswa Sang Bhagavā akan menetap di sana seumur hidupnya, dan ketika ia telah melewatkan keseluruhan umur kehidupan para deva itu, ia akan mencapai nibbāna akhir di dalam kehidupan yang sama itu.

Ini adalah kesenjangan, disparitas, perbedaan antara siswa mulia yang terpelajar dan kaum duniawi yang tidak terpelajar, yaitu, ketika ada alam tujuan masa depan dan kelahiran kembali.

(3) “Kemudian, seseorang berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang dipenuhi dengan kegembiraan altruistik, demikian pula arah ke dua, arah ke tiga, dan arah ke empat. Demikian pula ke atas, ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala penjuru, dan kepada semua makhluk seperti kepada diri sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan kegembiraan altruistik, luas, luhur, tanpa batas, tanpa permusuhan, tanpa niat buruk. Ia menikmatinya, menyukainya, dan mendapatkan kepuasan di dalamnya.

Jika ia teguh di dalamnya, fokus padanya, sering berdiam di dalamnya, dan tidak kehilangannya ketika ia meninggal dunia, maka ia akan terlahir kembali di tengah-tengah para deva dengan keagungan gemilang.

Umur kehidupan para deva dengan keagungan gemilang adalah empat kappa. Kaum duniawi akan menetap di sana seumur hidupnya, dan ketika ia telah melewatkan keseluruhan umur kehidupan para deva itu, ia akan pergi ke neraka, ke alam binatang, atau ke alam para hantu menderita. Tetapi siswa Sang Bhagavā akan menetap di sana seumur hidupnya, dan ketika ia telah melewatkan keseluruhan umur kehidupan para deva itu, ia akan mencapai nibbāna akhir di dalam kehidupan yang sama itu.

Ini adalah kesenjangan, disparitas, perbedaan antara siswa mulia yang terpelajar dan kaum duniawi yang tidak terpelajar, yaitu, ketika ada alam tujuan masa depan dan kelahiran kembali.

(4) “Kemudian, seseorang berdiam dengan meliputi satu arah dengan pikiran yang dipenuhi dengan keseimbangan, demikian pula arah ke dua, arah ke tiga, dan arah ke empat. Demikian pula ke atas, ke bawah, ke sekeliling, dan ke segala penjuru, dan kepada semua makhluk seperti kepada diri sendiri, ia berdiam dengan meliputi seluruh dunia dengan pikiran yang dipenuhi dengan keseimbangan, luas, luhur, tanpa batas, tanpa permusuhan, tanpa niat buruk. Ia menikmatinya, menyukainya, dan mendapatkan kepuasan di dalamnya.

Jika ia teguh di dalamnya, fokus padanya, sering berdiam di dalamnya, dan tidak kehilangannya ketika ia meninggal dunia, maka ia akan terlahir kembali di tengah-tengah para deva berbuah besar.

Umur kehidupan para deva berbuah besar adalah lima ratus kappa. Kaum duniawi akan menetap di sana seumur hidupnya, dan ketika ia telah melewatkan keseluruhan umur kehidupan para deva itu, ia akan pergi ke neraka, ke alam binatang, atau ke alam para hantu menderita. Tetapi siswa Sang Bhagavā akan menetap di sana seumur hidupnya, dan ketika ia telah melewatkan keseluruhan umur kehidupan para deva itu, ia akan mencapai nibbāna akhir di dalam kehidupan yang sama itu.

Ini adalah kesenjangan, disparitas, perbedaan antara siswa mulia yang terpelajar dan kaum duniawi yang tidak terpelajar, yaitu, ketika ada alam tujuan masa depan dan kelahiran kembali.

“Ini, para bhikkhu, adalah keempat jenis orang itu yang terdapat di dunia.”

© Hak Cipta HERY SHIETRA.

Budayakan hidup JUJUR dengan menghargai Jirih Payah, Hak Cipta, Hak Moril, dan Hak Ekonomi Hery Shietra selaku Penulis.