Yesus Lahir di Kandang Ternak, Mati di Kayu Salib Bersama Kedua Penjahat dengan Hanya Memakai Secarik Celana Dalam, Namun Hendak Menolong Umat Manusia?
Yesus Sungguh Malang dan Patut Dikasihani, Hendak
menjadi “Pahlawan Kesiangan” namun Bahkan Gagal Menolong Dirinya Sendiri
Question: Yesus lahir di kandang tempat tinggal hewan ternak. Bagaimana dengan Buddha, apakah setragis nasib Yesus?
Brief Answer: Yesus tidak mungkin seorang manusia luhur yang
agung, lahirnya saja di kandang ternak. Itulah sebabnya, kaum pemeluk Agama Yahudi
menolak mengakui bahwa Yesus adalah “juru selamat”, mengingat Yesus bahkan gagal
menyelamatkan dirinya sendiri sejak awal kelahirannya, lahir dan matinya begitu
“hina” serta “menyedihkan” alias bernasib begitu “memprihatinkan” . Namun Yesus
bersikeras mengklaim dirinya sebagai “juru selamat”, membuat berang kaum Yahudi,
sehingga terjadilah insiden penyaliban terhadap Yesus.
PEMBAHASAN:
Terdapat empat hal yang menakjubkan
dan mengagumkan dari kelahiran dari seorang Buddha, sebagaimana dapat
kita rujuk dari khotbah Sang Buddha dalam “Aṅguttara Nikāya : Khotbah-Khotbah Numerikal Sang Buddha JILID II”, Judul Asli : “The Numerical Discourses of the Buddha”,
diterjemahkan dari Bahasa Pāḷi oleh Bhikkhu Bodhi, Wisdom
Publications 2012, terjemahan Bahasa Indonesia tahun 2015 oleh DhammaCitta
Press, Penerjemah Edi Wijaya dan Indra Anggara, dengan kutipan:
127 (7) Menakjubkan (1)
“Para bhikkhu, melalui
manifestasi seorang Tathāgata, seorang Arahant, seorang Yang Tercerahkan
Sempurna, maka empat hal menakjubkan dan mengagumkan terjadi. Apakah empat ini?
(1) “Ketika, para bhikkhu,
seorang bodhisatta meninggal dunia dari alam surga Tusita dan dengan penuh
perhatian dan pemahaman jernih memasuki rahim ibunya, maka di dunia ini dengan
para deva, Māra, dan Brahmā, dalam populasi ini bersama dengan para petapa dan
brahmana, para deva dan manusia, suatu cahaya agung yang tak terukur muncul,
melampaui keagungan surgawi para deva.
Bahkan di alam-alam antara,
yang kosong dan kedalamannya tak terukur, wilayah kegelapan dengan kegelapan yang
tak tertembus di mana cahaya matahari dan rembulan, yang begitu kuat dan perkasa,
tidak dapat menjangkaunya, di sana juga suatu cahaya agung yang tak terukur
muncul, melampaui keagungan surgawi para deva.
[Kitab Komentar : Di antara
setiap tiga sistem dunia terdapat satu dunia antara, yang seperti ruang di
tengah-tengah tiga roda kereta atau kelopak yang diletakkan saling bersentuhan
satu sama lain. Neraka dunia antara ini (lokantarikanirayo)
berukuran delapan ribu yojana.’
Makhluk-makhluk itu yang telah terlahir
kembali di sana saling melihat satu sama lain dengan cahaya ini dan berkata:
‘Sungguh, tampaknya ada makhluk-makhluk lain yang telah terlahir di sini. Ini
adalah hal menakjubkan dan mengagumkan pertama yang terjadi melalui manifestasi
seorang Tathāgata, seorang Arahant, seorang Yang Tercerahkan Sempurna.
[Kitab Komentar : Makhluk-makhluk
itu yang telah terlahir kembali di sana: Melalui kamma apakah yang telah
dilakukan oleh makhluk-makhluk yang terlahir kembali di neraka dunia-antara?
Mereka muncul di sana karena mereka telah melakukan kejahatan mengerikan
terhadap orangtua mereka dan terhadap para petapa dan brahmana baik, dan karena
perbuatan-perbuatan jahat lainnya seperti membunuh makhluk-makhluk hidup setiap
hari … tubuh mereka berukuran tiga gāvuta (kira-kira lima mil) dan mereka
memiliki kuku jari yang panjang seperti kelelawar. Seperti halnya
kelelawar-kelelawar bergelantungan di pepohonan, makhluk-makhluk ini
bergelantungan dengan kuku mereka pada kaki gunung sistem dunia. Ketika
merayap, mereka saling berdekatan satu sama lain dalam jarak panjang satu
lengan.
Kemudian, dengan berpikir,
‘Kami telah memperoleh makanan,’ mereka menjadi heboh, bergulingan, dan jatuh
ke air yang menyokong dunia; mereka bagaikan buah madu yang, ketika tertiup angin,
gugur dan jatuh ke air. Segera setelah mereka terjatuh, mereka melebur bagaikan
sebongkah tepung dalam air yang sangat tajam … Cahaya ini [ketika Sang
Bodhisatta memasuki rahim ibunya] tidak berlangsung bahkan selama waktu yang
dibutuhkan untuk menyesap bubur, tetapi hanya cukup lama bagi mereka untuk
bangun dari tidur dan mengenali objek. Tetapi para penghafal Dīgha Nikāya mengatakan
bahwa, bagaikan kilatan halilintar, ini menunjukkan waktu yang hanya sejentikan
jari dan lenyap bahkan selagi mereka mengatakan, ‘Apa itu?’]
(2) “Kemudian, ketika
seorang bodhisatta dengan penuh perhatian dan pemahaman jernih keluar dari
rahim ibunya, maka di dunia ini dengan para deva, Māra, dan Brahmā, dalam
populasi ini bersama dengan para petapa dan brahmana, para deva dan manusia, suatu
cahaya agung yang tak terukur muncul, melampaui keagungan surgawi para deva.
Bahkan di alam-alam antara … [makhluk-makhluk] berkata: ‘Sungguh, tampaknya ada
makhluk-makhluk lain yang telah terlahir di sini.’ Ini adalah hal menakjubkan dan
mengagumkan ke dua yang terjadi melalui manifestasi seorang Tathāgata, seorang
Arahant, seorang Yang Tercerahkan Sempurna.
(3) “Kemudian, ketika
seorang Tathāgata tercerahkan pada pencerahan sempurna yang tak tertandingi,
maka di dunia ini dengan para deva, Māra, dan Brahmā, dalam populasi ini
bersama dengan para petapa dan brahmana, para deva dan manusia, suatu cahaya
agung yang tak terukur muncul, melampaui keagungan surgawi para deva. Bahkan
di alam-alam antara … [makhluk-makhluk] berkata: ‘Sungguh, tampaknya ada
makhluk-makhluk lain yang telah terlahir di sini.’ Ini adalah hal menakjubkan
dan mengagumkan ke tiga yang terjadi melalui manifestasi seorang Tathāgata,
seorang Arahant, seorang Yang Tercerahkan Sempurna.
(4) “Kemudian, ketika
seorang Tathāgata memutar roda Dhamma yang tak tertandingi, maka di dunia
ini dengan para deva, Māra, dan Brahmā, dalam populasi ini bersama dengan para petapa
dan brahmana, para deva dan manusia, suatu cahaya agung yang tak terukur
muncul, melampaui keagungan surgawi para deva. Bahkan di alam-alam antara,
yang kosong dan kedalamannya tak terukur, wilayah kegelapan dengan kegelapan yang
tak tertembus di mana cahaya matahari dan rembulan, yang begitu kuat dan perkasa,
tidak menjangkaunya, di sana juga suatu cahaya agung yang tak terukur
muncul, melampaui keagungan surgawi para deva. Makhluk-makhluk itu yang
telah terlahir kembali di sana saling melihat satu sama lain dengan cahaya ini
dan berkata: ‘Sungguh, tampaknya ada makhluk-makhluk lain yang telah terlahir
di sini.’ Ini adalah hal menakjubkan dan mengagumkan ke empat yang terjadi
melalui manifestasi seorang Tathāgata, seorang Arahant, seorang Yang
Tercerahkan Sempurna.
“Ini, para bhikkhu, adalah
keempat hal menakjubkan dan mengagumkan itu yang terjadi melalui manifestasi
seorang Tathāgata, seorang Arahant, seorang Yang Tercerahkan Sempurna.”