Hanya orang dungu, yang memakan dan termakan ajaran islam. Banyak kalangan muslim, yang akibat dungu, bahkan masih juga berdelusi bahwa islam adalah “Agama SUCI”. Faktanya, cukup dengan “pikiran jernih” dan “akal sehat milik orang sehat”, kita akan tahu bahwa islam adalah “Agama DOSA”.
Berikut
bukti konkret untuk membuat kalangan muslim “mati kutu” alias tidak dapat
membantah bahwa islam, agama yang para PENDOSA peluk tersebut, adalah “Agama
DOSA”, sekaligus membuktikan betapa delusifnya para muslim yang selama ini mengklaim
dirinya sebagai kaum paling superior yang merasa berhak menghakimi kaum lainnya—namun
disaat bersamaan begitu mabuk, mencandu, dan kecanduan “PENGHAPUSAN DOSA”.
Ada
seorang kiai atau ustad, yang berceramah di masjid, lewat speaker pengeras
suara eksternal berceramah secara berapi-api sebagai berikut:
“Ada
yang bilang, orang baik, sekalipun bukan muslim, masuk surga. Saya tidak
setuju! Hanya muslim yang solat yang bisa masuk surga, bukan non muslim! Jika
orang-orang baik namun non muslim bisa masuk surga, lalu untuk apa kita solat /
shalat lima kali sehari?”
Dari
pernyataan tersebut saja, kita menjadi tahu, bahwa islam bukanlah “Agama SUCI”,
namun “Agama DOSA”. Pertanyaannya sederhana : Jika begitu, orang baik dan orang suci sekalipun, bila bukan muslim,
masuk neraka?
Dalam
paradigma “Agama SUCI”, orang-orang baik, orang-orang yang masih bisa berbuat
keliru namun siap-sedia berani bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan buruknya
sendiri, serta orang-orang suci yang terlatih dalam disiplin diri ketat bernama
“self-control”, otomatis masuk surga,
sekalipun ateis. Karenanya, agama islam tidak memenuhi kriteria “Agama SUCI”—bahkan
bertolak-belakang.
Babi,
disebut haram.
Namun
ideologi KORUP bernama “PENGHAPUSAN DOSA” (abolition
of sins), disebut sebagai HALAL?
Bung,
hanya seorang PENDOSA yang butuh PENGHAPUSAN DOSA—kesemuanya
dikutip dari Hadis Sahih Muslim:
-
No. 4852 : “Dan barangsiapa yang bertemu dengan-Ku dengan membawa kesalahan sebesar isi
bumi tanpa menyekutukan-Ku dengan yang lainnya, maka Aku akan menemuinya dengan
ampunan sebesar itu pula.”
-
No. 4857 : “Barang siapa membaca
Subhaanallaah wa bi hamdihi (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus
kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus,
meskipun sebanyak buih lautan.”
-
No. 4863 : “Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam mengajarkan kepada orang yang baru masuk Islam dengan do'a;
Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah
aku, dan anugerahkanlah aku rizki).”
-
No. 4864 : “Apabila ada seseorang yang
masuk Islam, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengajarinya tentang shalat
kemudian disuruh untuk membaca do'a: Allaahummaghfir lii warhamnii wahdinii
wa'aafini warzuqnii'. (Ya Allah, ampunilah
aku, kasihanilah aku, tunjukkanlah aku, sehatkanlah aku dan anugerahkanlah
aku rizki).”
-
No. 4865 : “Ya Rasulullah, apa yang
sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan
Maha Agung?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: 'Ketika
kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku,
selamatkanlah aku,”
-
Aku mendengar Abu Dzar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:
“Jibril menemuiku dan memberiku kabar gembira, bahwasanya siapa saja
yang meninggal dengan tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, maka dia masuk surga.” Maka saya bertanya,
‘Meskipun dia mencuri dan berzina? ‘ Nabi menjawab: ‘Meskipun dia mencuri dan juga berzina’.” [Shahih
Bukhari 6933]
“Standar moral” semacam apakah, yang
menjadi sunnah nabi rasul Allah, sang kekasih Allah yang disebut-sebut oleh
ibu-ibu pengajian sebagai manusia paling sempurna, paling baik, paling suci,
paling baik, dan paling mulia? Telah ternyata berupa teladan MABUK dan MENCANDU
PENGHAPUSAN DOSA—juga masih dikutip dari Hadis Muslim:
-
No. 4891. “Saya pernah bertanya kepada
Aisyah tentang doa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam memohon kepada Allah Azza wa Jalla. Maka Aisyah menjawab; 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
pernah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan perbuatan yang telah aku lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4892. “Aku bertanya kepada Aisyah
tentang do'a yang biasa dibaca oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, maka dia
menjawab; Beliau membaca: ‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan yang telah aku
lakukan dan yang belum aku lakukan.’”
-
No. 4893. “dari 'Aisyah bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam di dalam do'anya membaca: ‘Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keburukkan
sesuatu yang telah aku lakukan, dan dari keburukkan sesuatu yang belum aku
lakukan.’”
-
No. 4896. “dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam bahwasanya beliau pemah berdoa sebagai berikut: ‘Ya Allah, ampunilah kesalahan, kebodohan, dan
perbuatanku yang terlalu berlebihan dalam urusanku, serta ampunilah
kesalahanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku dalam kesungguhanku, kemalasanku, dan ketidaksengajaanku serta kesengajaanku yang semua itu ada pada
diriku. Ya Allah, ampunilah aku atas
dosa yang telah berlalu, dosa yang mendatang, dosa yang aku samarkan, dosa yang
aku perbuat dengan terang-terangan dan dosa yang Engkau lebih mengetahuinya
daripada aku,”
-
Aisyah bertanya kepada Rasulullah SAW, mengapa suaminya shalat malam hingga
kakinya bengkak. Bukankah Allah SWT telah mengampuni dosa Rasulullah baik
yang dulu maupun yang akan datang? Rasulullah menjawab, “Tidak bolehkah aku
menjadi seorang hamba yang banyak
bersyukur?” [HR Bukhari Muslim]
Alhasil,
“Agama DOSA” bernama islam, membuat para PENDOSA umat pemeluknya alih-alih menjadi
orang baik ataupun orang suci, para muslim tersebut menjelma menjadi kaum paling
pemalas yang begitu pemalas untuk menanam benih-benih Karma Baik untuk mereka
petik sendiri buah manisnya dikemudian hari, dan disaat bersamaan menjadi
seekor pengecut yang begitu pengecut untuk bertanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan
buruk mereka sendiri yang selama ini telah pernah dan masih sedang menyakiti,
merugikan, maupun melukai kaum lainnya maupun terhadap sesama muslim itu
sendiri.