Perbedaan antara EGO dan Welas-Asih
Question: Bagaimanakah ciri-ciri orang yang memiliki belas-kasih atau welas-asih?
Perbedaan antara EGO dan Welas-Asih
Question: Bagaimanakah ciri-ciri orang yang memiliki belas-kasih atau welas-asih?
Pandai dan Gemar Mengomentari dan Meng-kritik maupun
Mencela Orang Lain, Belum Tentu dan Bukan Jaminan yang Bersangkutan Lebih Baik
Perialkunya
Lebih Baik Terampil dan Terlatih dalam Kewaspadaan (Mawas-Diri) daripada Sibuk Mengomentari dan Mencela Pihak Lain
Dalam usia yang telah hampir mencapai separuh abad lamanya lahir dan tumbuh besar di Indonesia, kerapkali penulis jumpai fenomena sosial dimana anggota masyarakat kita begitu pandai dan gemar mengomentari, menggurui, mencerca, menghardik, meng-kritik, mencela, menghakimi, serta meng-kritisi pihak lain, akan tetapi telah ternyata diri yang bersangkutan senantiasa memelihara “standar ganda”, yakni : orang lain tidak boleh demikian, namun dirinya sendiri boleh demikian. Alhasil, penulis cenderung untuk tidak menanggapi apapun orang-orang yang bersikap kritis terhadap orang lain—karena belum tentu yang bersangkutan berbeda sikap dan sifatnya dari orang lain yang ia cela, kritik, serta hakimi.
Nasib Korban, Tanpa Kepastian dimana Keadilan Terasa Demikian Tidak Terjangkau
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang Terbit Tahun 2025
lebih PRO terhadap Terdakwa, Kabar Gembira bagi Pelaku Kejahatan dan Kabar Duka
bagi Kalangan Korban
Question: Ada hal “mengganjalkan” yang cukup membuat kami bingung saat dipikirkan sebanyak apapun, yakni pihak Jaksa atau Penuntut Umum (JPU) tidak boleh mengajukan upaya hukum Kasasi ke Mahkamah Agung terhadap Terdakwa yang diputus “bebas” atau “diberikan pe-maaf-an” oleh hakim di pengadilan. Pertanyaannya, bukankah disini juga ada kepentingan kami selaku Korban-Pelapor, dimana pihak Kejaksaan mendakwa dan menuntut dalam rangka mewakili kepentingan pihak Korban? Mengapa terkesan ada hak yang berdisparitas atau diskriminasi antara kepentingan Korban dan kepentingan seorang Terdakwa, serta dimanakah letak “equality before the law”-nya? Yang terlebih janggal, bila Korban tidak memaafkan (perbuatan) sang pelaku, atas dasar hak apakah hakim di pengadilan melakukan “fetakompli” terhadap hak prerogatif Korban untuk memaafkan atau tidaknya pihak Terdakwa yang nyata-nyata telah terbukti bersalah sebagaimana dirinci dalam dakwaan JPU?
Semua orang sanggup mengikuti
arus,
Namun tidak semua orang sanggup
melawan arus.
Semua orang sanggup “tabrak
lari”,
Namun tidak semua orang sanggup
bertanggung-jawab.
Semua orang sanggup berbuat
jahat,
Namun tidak semua orang sanggup berbuat kebaikan.
Kaum Muslim, Ibarat Buruk Wajah (tapi) Cermin (yang) Dibelah
Standar Ganda Kaum Muslim yang Serba Mau Menang Sendiri
Question: Saya sering mengamati, betapa kaum muslim maunya “menang sendiri” secara membuta, parsial, serta berstandar-ganda. Kaum muslim beralibi, bahwa Israel membuat serangan-balasan secara tidak proporsional. Pertanyaannya, Israel adalah negara yang teritori luas tanahnya sangat amat kecil, lalu dikeroyok oleh Hamas, Iran, dan Yaman, dan sejak dahulu kala berita mewartakan kabar bahwa Israel yang diserang terlebih dahulu oleh mereka lewat rudal peledak. Bagaimana mungkin, negara dengan teritori kecil, disebut membuat serangan-balasan secara tidak proposional terhadap negara-negara yang mengeroyokinya? Menabuh genderang peperangan, salah siapa jika yang kemudian “babak-belur” ialah si penabuh genderang perang? Mereka tidak mau belajar dengan selalu mengulangi hal serupa, seolah menyerang negara orang lain ialah “iseng-iseng berhadiah” tanpa kosekuensi apapun, lalu “cengeng” dengan bermain “playing victim”.
Jangan Bersikap seolah-olah Tidak Bisa Hidup Tanpa menjadi PENGECUT (PENDOSA
PECANDU PENGHAPUSAN DOSA)
KORUPTOR DOSA, dimana Dosa-Dosa pun Dikorupsi, AGAMA DOSA
Question: Mengapa saya merasa, bahwa sebagian besar masyarakat di Indonesia adalah berwatak pesimistik, terlihat dari doa-doa dan ritual mereka yang secara vulgar, bahkan mempromosikannya tanpa rasa malu ataupun tabu lewat pengeras suara ke publik luas, yang terkesan “tidak bisa hidup tanpa mencandu dan mabuk pengampunan dosa”? Apakah tidak bisa, kita hidup secara bertanggung-jawab dan berani mengambil tanggung-jawab atas perbuatan-perbuatan kita sendiri, baik perbuatan yang baik maupun yang buruk, juga baik perbuatan yang kecil maupun yang besar?
Kasta PENDOSAWAN PECANDU PENGHAPUSAN DOSA yang Berdelusi sebagai Kaum Paling Superior Dimana Ini dan Itu Diharamkan namun Ideologi KORUP justru DIhalalkan
Dosa-Dosa pun Dikorupsi, Ideologi KORUP Bernama “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN
/ PENEBUSAN DOSA” bagi “KORUPTOR DOSA”
Question: Mengapa di Buddhis, aturan larangan bagi umatnya longgar sekali, hanya ada lima buah larangan (pancasila)?
Tidak Perlu Menunggu Kematian untuk Merasakan Aktualnya Surga maupun Neraka
Question: Bila “state of mind” adalah surga atau neraka, maka mudah sekali membuat Allah mencicipi api neraka, yakni semudah membuat Allah merasa marah, murka, kesal, cemburu, benci, geram, gerah, kecewa, sedih, emosian, mengingat sosok Allah dipersonifikasi selayaknya emosi seorang manusia biasa. Bukankah artinya, dengan membuat Allah menjadi marah, kita sebagai manusia sudah berhasil mendikte dan menyetir emosi Allah, yang secara sendirinya Allah terbakar oleh api kemarahan?
Pengakuan Bersalah di Pengadilan Negeri Vs. Pengakuan Berdosa di Agama
Samawi, manakah yang Lebih Adil bagi KORBAN?
Gali Motif serta Motivasi Dibalik suatu Sikap, akan Kita Temukan Wajah Asli Dibaliknya
Question: Di dalam kitab hukum pidana, ada istilah “pengakuan bersalah”. Apakah itu sama, dengan konsep “pengakuan dosa” dalam agama samawi?
Ketika Setan Berhasil Menggoda Manusia, artinya Allah Tidak Benar-Benar
Maha Kuasa
Setan Lebih Berkuasa daripada Allah, Buktinya Puluhan Nabi Rasul Allah GAGAL TOTAL MEMBUAT PUNAH SATUPUN KEJAHATAN PALING PRIMITIF DALAM SEJARAH UMAT MANUSIA
Umat Agama Samawi (PECANDU PENGAMPUNAN / PENEBUSAN DOSA) adalah Pelanggan Tetap
“Setan Penggoda” yang Selalu Berhasil Digoda serta Tergoda Memproduksi Segudang
Dosa dan Maksiat
Question: Diceritakan bahwa setan menggodai manusia, atau
seperti ular menggoda Adam dan Hawa sehingga memakan “buah terlarang”. Pertanyaannya,
mengapa Allah hanya mendiamkan setan dan si ular dengan bebas dan leluasa untuk
tempo waktu yang panjang menggodai manusia? Bila setan dan si ular berhasil
menggoda manusia, bukankah itu artinya sesuatu bisa terjadi diluar kehendak
maupun rencana dan diluar kuasa Allah? Bukankah katanya, Allah “Maha Tahu”? Buat
apa juga Allah menciptakan “ranjau darat” semacam “buah terlarang”?
Bukankah Allah juga, yang menciptakan rasa penasaran dalam diri Adam dan Hawa?
Bila dosa sifatnya diteruskan atau diwariskan kepada keturunan selanjutnya (dosa
warisan), maka kemana semua jasa-jasa baik Adam dan Hawa (harta warisan)? Mengapa
pula Allah membiarkan si setan dan si ular berkeliaran mencari mangsa untuk
digoda, bahkan terkesan dilestarikan dan dipelihara oleh Allah? Mengapa dogma-dogma
agama samawi justru lebih banyak melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru yang tidak
terjawab alih-alih menjawab pertanyaan hidup?
Saya telah sampai pada satu puncak kecurigaan, bahwa Allah itu sendirilah yang memang tidak menghendaki kepunahan kejahatan-kejahatan yang sudah dikenal sejak zaman prasejarah umat manusia, mulai dari pencurian, membunuh, merampok, memerkosa, menipu, menggelapkan, dan kejahatan lain sebagainya. Tujuan Allah melestarikan dosa maupun maksiat, hanya satu, yakni agar umat manusia menjelma “pecandu pengampunan / penebusan dosa” dimana harga yang harus mereka bayarkan ialah jiwa yang digadaikan menjadi budak sembah-sujud Allah, seolah Allah sirna dari dunia ini bila tidak disembah.
Ketika Hakim di Pengadilan Meniru dan Meneladani Sifat Allah yang Lebih
PRO / Berpihak kepada Penjahat (PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA)
Yang Dibutuhkan Kreditor, Bukanlah sang “Nabi Kolor” yang Sudah Mati Lebih dari Dua Ribu Tahun yang Lampau, Akan Tetapi Piutangnya Dibayarkan Hingga Lunas. Penebusan Dosa, apanya yang Ditebus?
Question: Yang tidak saya mengerti, di putusan hakim
pengadilan, ada tulisan “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”.
Ketika kita renungkan, seperti apakah sifat Tuhan? Jawabannya ialah Tuhan lebih
berpihak terhadap penjahat dengan menghapus dosa-dosa para penjahat tersebut
yang rajin ibadah ritual sembah-sujud maupun koor nyanyian paduan suara,
ataupun seperti berpuasa ramadhan meski konsumsi meningkat. Jika hakim di
pengadilan benar-benar meniru atau meneladani sifat Tuhan, mengapa justru penjahat
divonis pidana penjara sebagai sanksinya, alih-alih dibebaskan untuk kembali
berkeliaran mencari mangsa?
Tuhan tidak pernah bertanya kepada korban, aspirasi apa yang menjadi keinginan korban, semisal diberi kesempatan untuk mengekspresikan tuntutan keadilan atau menceritakan derita yang mereka alami, namun seketika menghapus dosa-dosa para penjahat yang telah menyakiti ataupun merugikan korban-korbannya. Lalu, mengapa juga hakim di pengadilan masih memanggil pihak korban untuk didengar keterangannya di pengadilan? Mengapa hakim manusia ini, seolah hendak lebih adil daripada Tuhan yang katanya sudah bergelar “Maha Adil”?
Ketika Orang Bijak Berkata Tegas “Karma Buruk Tidak dapat Dihapuskan” dan “Orang
Jahat Kodratnya Masuk Neraka”, maka ia Tidaklah Jahat Kepada Anda, namun justru
Berwelas-Asih Memberikan Nasehat agar Anda Tidak Menyesali Hidup Anda
Yang Pahit, Jangan Langsung Dibuang. Yang Manis, Jangan Langsung Ditelan
Dokter di Indonesia, sedikit-dikit meresepkan atau memberikan obat kepada setiap pasien yang datang ke rumah sakit, namun bukan artinya dokter di Indonesia betul-betul baik dan perduli terhadap kesehatan sang pasien. Sebaliknya, di Belanda, dokter paling anti dan paling “kikir” untuk memberikan resep obat-obatan kepada pasien mereka, akan tetapi bukan berarti dokter di Belanda adalah jahat dan kejam terhadap pasien mereka.
Dogma Agama Samawi Ibarat Bensin yang Menyulut Api Nafsu yang Kian Menguasai dan Menjerat
Question: Jika kita melihat orang-orang yang dikuasai oleh nafsu sehingga melakukan praktek poligami, atau bahkan melakukan kejahatan pemerkosaan, “jajan wanita” ke tempat hiburan malam, dikendalikan keserakahan yang tidak kenal kata “puas”, kesetanan sehingga tega merampok, gila kuasa, mabuk otoritas, terbudaki oleh kekayaan materi dengan terus mengejar uang tanpa akhir atau bahkan merampas nasi dari piring milik orang yang lebih miskin, maka bukankah itu adalah “neraka dunia”? Bila “state of mind” yang menyerupai terbakar oleh api neraka yang bernama nafsu, gagal untuk dikontrol, bahkan dikontrol oleh keserakahan diri sendiri, maka atas dasar apakah mereka berdelusi akan masuk ke alam surgawi setelah kematian?
Siapa yang Mau jadi Korban dari PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA?
Siapa yang Mau Punya Tuhan yang lebih PRO terhadap PENDOSA PECANDU
PENGAMPUNAN DOSA?
Question: Ketika yesus menyatakan bahwa kedua penjahat yang
turut disalib bersamanya, masuk surga setelah mati di kayu salib, tidak ada
tercantum dalam teks-teks nasrani bahwa yesus bertanya terlebih dahulu kepada seluruh
korban dari kedua penjahat yang turut disalib bersama dengan yesus, semisal
apakah korban-korbannya telah memafkan sang penjahat, apakah sang penjahat
telah bertobat dan menyesali perbuatannya, apakah sang penjahat telah berupaya
mengobati dan memulihkan kerugian maupun luka korban-korbannya, apakah korban-korbannya
sudah sembuh, dan sebagainya.
Bahkan, yesus tidak menyatakan bahwa para korban dimasukkan ke surga sehingga kembali dipertemukan dengan para penjahat yang telah menjahati mereka, untuk kemudian kembali dijahati untuk kali-keduanya. Atas dasar apakah, yesus merampas keadilan dan penghukuman yang merupakan hak dari kalangan korban? Mengapa yang ditolong oleh yesus, bukan orang-orang baik dan kalangan korban, justru menolong kalangan penjahat? Delusi apakah yang dipertontonkan oleh yesus, yang bahkan tidak mampu dan gagal menyelamatkan dirinya sendiri sehingga disalib di atas kayu salib dengan sangat hina, dicatat dalam sejarah hanya dengan mengenakan celana dalam?
Ketika Masih Minoritas, para Muslim Menuntut serta Menikmati Toleransi Berkeyakinan. Namun, ketika Islam Menjelma Mayoritas, para Muslim Hendak Menghapus Praktek Toleransi yang Dahulu Mereka Nikmati
STANDAR BERGANDA, Tipikal Khas Kaum Muslim
Question: Apakah kita sebaiknya, tidak memberi toleransi apapun terhadap kaum muslim, agar mereka tidak “besar kepala” dan lebih sibuk menghakimi keyakinan orang lain daripada mengurusi keyakinan mereka sendiri? DI Inggris, dewasa ini, para muslim membangun komunitas “polisi syariah” yang gaib-nya justru menghakimi kaum nonmuslim di ruang-ruang publik yang notabene warga asli lokal Inggris yang nonmuslim. Para muslim di Inggris, yang rata-rata imigran, diberi toleransi, namun kemudian para muslim tersebut nyata-nyata secara berjemaah dan masif berupaya menghakimi kehidupan masyarakat lokal di Inggris lewat razia “polisi syariah” seperti melarang warga memakan babi, atau bahkan memaksa mereka untuk ikut berpuasa ramadhan, dimana kini mereka juga membangun pengadilan khusus penegakan dan penindakan “hukum syariah” sehingga menyerupai “negara di dalam negara”. Apakah negara-negara tersebut, tidak belajar dari kejadian di Nusantara sebagaimana tertuang di Kitab Jawa DHARMO GHANDUL?
Allah Merampas HAK KORBAN Atas Keadilan dengan Memasukkan ke Surga para Penjahat
Question: Ini dan itu, disebut haram. Ini dan itu, disebut dilarang. Namun, ujung-ujungnya justru pendosa dan penjahat yang dimasukkan ke surga oleh Allah. Terus, apa yang disisakan bagi korban, hanya bisa “gigit jari” dilecehkan oleh si penjahat-pendosa lalu masih juga dirampas haknya atas keadilan oleh Allah. Ini kok aneh, orang buat jahat secara sembunyi-sembunyi, tapi ini jadi “koruptor dosa” dengan terang-terangan mempertontonkan candu pengampunan dosa, bahkan mempromosikan ideologi korup semacam pengampunan dosa lewat pengeras suara ke publik secara vulgar dan rasa bangga, alih-alih merasa malu ataupun tabu?
Berani Berbuat, namun Tidak Berani Bertanggung-Jawab, alias Mencandu PENGAMPUNAN DOSA bagi Pengecut dan Pecundang Kehidupan
Kecanduan dan Mencandu Ideologi Korup semacam “PENGAMPUNAN DOSA”, adalah Kamma
(Perbuatan) Buruk Itu Sendiri
Menghindari Perbuatan Buruk dan Berani Bertanggung-Jawab, adalah Kamma
(Perbuatan) Baik itu Sendiri
Question: Bagi para pendosa, ramadhan adalah keajaiban, karena dosa-dosa para muslim selama setahun penuh akan dihapuskan oleh allah. Namun, bukankah itu artinya menjadi berita duka bagi kalangan korban yang selama ini disakiti, dilukai, maupun dirugikan oleh para muslim tersebut, karena keadilan dirampas dari mereka oleh allah yang katanya “maha adil”? Tapi mungkin yang paling korup ialah dogma agama nasrani, “penebusan dosa” yang menyerupai “minta maaf terlebih dahulu, sebelum kemudian bebas sebebas-bebasnya berbuat kejahatan”.
“Business as Usual” Umat Agama Samawi : PRODUKSI SEGUDANG DOSA & RITUAL PENGHAPUSAN DOSA
Question: Bila setiap harinya dan setiap hari raya keagamaannya, isi doa dan ritualnya ialah permohonan penghapusan dosa (dogma pengampunan maupun penebusan dosa), maka dimana letak “taubat”-nya, bukankah itu justru menjadi motivasi untuk “business as usual” yakni untuk terus produktif berlomba-lomba mencetak segudang dosa-dosa untuk kemudian dihapuskan, dan disaat bersamaan menjadi demotivasi untuk berhenti serta tidak lagi berbuat dosa maupun maksiat?
Muslim yang Tidak Radikal (Muslim Moderat) adalah OKNUM yang Membangkan Perintah Allah untuk Bersikap Radikal dan Intoleran
Muslim yang Radikal, Intoleran, dan Ekstremis, adalah
Muslim yang Sejati, BUKAN OKNUM
Para Muslim TUNDUK pada CANDU “PENGHAPUSAN DOSA” dan
Memberi Makan KEKOTORAN BATIN, Pecundang Kehidupan
Question: Bukankah anak Sekolah Dasar saja tahu, apa jadinya bila teknologi nuklir sampai jatuh ke tangan pemeluk ajaran radikal berikut, “Saya diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka mengucapkan TIDAK ADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN BAHWA MUHAMMAD RASUL ALLAH, menghadap kiblat kami, memakan sembelihan kami, dan melakukan shalat dengan kami. Apabila mereka melakukan hal tersebut, niscaya kami diharamkan MENUMPAHKAN DARAH dan MERAMPAS HARTA mereka.” [Hadist Tirmidzi No. 2533]”?
Tidak Ada “DOSA ASAL MANUSIA”, yang Ada ialah “DOSA
ASAL ALLAH”
Mengapa Allah Bersikap seolah-olah Kita, Umat Manusia, Pernah Meminta untuk Dilahirkan maupun Diciptakan ke Dunia ini?
Question: Konsep “dosa asal” yang dikemukakan oleh agama nasrani, dilengkapi dengan ideologi korup semacam “penebusan dosa”, bukankah artinya “lengkap sudah”, vonisnya hidup dan mati sebagai “lahirnya berdosa sebagai pendosa” dan “matinya sebagai KORUPTOR DOSA” yang mana dosa-dosa pun dikorupsi lewat dogma “minta maaf terlebih dahulu, baru kemudian berbuat kejahatan dengan bebas” alias “bebas berbuat jahat”?
Mukzijat Penyembuhan dari Sakit ala Nasrani adalah Mukzijat yang Percuma, Tidak Benar-Benar Menolong secara Permanen
Question: Dalam ajaran islam, Allah menyebutkan bahwa tidak ada penyakit yang tidak ada obatnya kecuali penyakit kepikunan. Begitupula dalam nasrani, iman disebut sebagai obat penyembuh. Namun yang menjadi pertanyaan terbesar saya ialah, mengapa untuk penyakit suka mabuk dan kecanduan berbuat dosa dan maksiat yang begitu adiktif, justru ialah diajarkan doa dan ritual penghapusan dosa alih-alih mengajarkan untuk bertanggung-jawab terhadap korban-korban para muslim tersebut yang menderita luka ataupun kerugian oleh perbuatan mereka? Itu mirip menyiram bensin ke api, semakin besar api tersebut membara dan membakar. Mereka bermulut besar bicara mengenai agama, kitab, ayat-ayat, dogma, Tuhan, nabi, namun miskin dari sikap bertanggung-jawab.
Apakah Ideologi merupakan “Benda Mati” yang Tidak dapat Menggerakkan, Memanipulasi, Memprovokasi, Mengeksploitasi, Membajak, Menghasut, serta Menginfeksi Pikiran Manusia?
Question: Ada tokoh yang mengakunya sebagai cendekiawan anthropologi yang menyebutkan, bahwa agama adalah benda mati, karenanya agama samawi bila sekalipun dogmanya mengajarkan penghapusan dosa bagi umat pemeluknya, tidak dapat mencelakai siapapun. Mengapa saya merasa ada yang salah dari paradigma dari sang tokoh tersebut? Benda mati, sifatnya “digerakkan” oleh yang menggunakan benda tersebut, bukan justru “menggerakkan” manusia yang memegangnya. Saya kira ada yang salah dari cara berpikir yang bersangkutan, namun sukar untuk saya sebutkan untuk mengungkapkannya.
Menjelma KORUPTOR DOSA alih-alih “Kembali ke Fitri” Berkat Kecanduan & Mabuk “PENGHAPUSAN / PENGAMPUNAN DOSA”
Ada perbedaan mendasar antara konsumsi mata, konsumsi jiwa, dan konsumsi perut. Bila makanan untuk perut, dapat kita lihat pada jejeran produk di rak toko maupun apa yang dijajakan oleh penjual pangan di pasar, namun apa yang berdampak pada kesehatan tubuh kita ialah produk pangan apakah yang benar-benar masuk ke perut kita. Tubuh kita akan sehat dan kesehatannya akan terjaga, sepanjang kita selektif memilih produk-produk yang banyak beredar di pasaran, “as a smart buyer / customer”.
Memakan Iming-Iming PENGHAPUSAN DOSA merupakan KEKOTORAN BATIN TERBESAR, yang Ironisnya justru Diberi Makan Berkedok Ibadah
Question: Manakah yang lebih kotor, tercela, dan lebih menjijikkan, apakah “berbuat jahat” ataukah “memohon penghapusan dosa”?
Bagaimana Mungkin, yang “PUASA BUAT DOSA” justru Kalah Derajat dengan Kasta “PUASA MAKAN” (namun Konsumsi Meningkat Sembari Berdelusi Dosa Setahun Dihapuskan)
Question: Penjahat manapun akan termotivasi untuk berpuasa makan, bila iming-imingnya ialah “dosa-dosa setahun dihapuskan” meski senyatanya konsumsi mereka meningkat di bulan ramadhan? Mereka seringkali memakai alasan “sedang berpuasa” sebagai alasan untuk mudah tersinggung dan menghakimi pihak lain, semisal melarang rumah makan untuk beroperasi dan mudah marah. Pertanyaanya, mengapa harus berpuasa makan, mengapa bukan berpuasa dari perbuatan-perbuatan buruk seperti menyakiti, melukai, maupun merugikan pihak-pihak lainnya? Ramadhan merupakan “bulan suci” ataukah sejatinya “bulan dosa”, mengingat motivasi para muslim yang berpuasa makan ialah “dosa-dosa setahun dihapuskan”? Bukankah itu artinya juga menjadi hari duka serta berkabung nasional, bagi kalangan korban dari para pendosa yang kecanduan penghapusan dosa tersebut?
Manusia yang Hebat ialah Mereka yang Berjiwa Ksatria dengan Mau serta Siap Bertanggung-Jawab Atas Perbuatan-Perbuatan Buruk Mereka Sendiri
Bulan Ramadhan, Bulan dimana KEKOTORAN BATIN Diberi Makan dengan Ideologi
KORUP Bernama “DOSA-DOSA SETAHUN DIHAPUSKAN” serta Konsumsi Perut Meningkat
Drastis
Question: Banyak manusia, bagaikan buta. Mereka tidak mau
menyadari bahaya dibalik orang-orang yang berpuasa ramadhan, yakni minta dan
gila dihormati seolah paling superior tanpa mau menyadari umat agama lain punya
jadwal puasanya sendiri, suka persekusi dengan sikap yang “pendek sulutnya”
dengan mengatas-namakan “sedang berpuasa” namun “tidak berpuasa menganiaya”,
melarang orang lain makan, melarang rumah makan membuka tokonya, bekerja malas-malasan,
menuntut THR, dan disaat bersamaan mengharap dosa-dosa selama setahun
dihapuskan sementara konsumsi mereka justru meningkat drastis disaat puasa
ramadhan yang mengakibatkan harga-harga sembako turut terdongkrak di pasar.
Masyarakat kaum NON juga bodoh, merasa kaum muslim yang berpuasa ramadhan sebagai kaum paling superior, meski sejatinya yang lebih hebat ialah mereka yang TIDAK berpuasa ramadhan alias yang konsumsinya tidak meningkat, tidak menuntut dihormati, puasa dari menganiaya orang lain, puasa dari begal, juga puasa dari permohonan pengampunan dosa. Mengapa saya selalu merasa, SQ selalu linear pada derajat IQ seseorang untuk dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk?
“Surga” yang Isinya justru Dihuni para PENJAHAT PECANDU PENGHAPUSAN DOSA, Don’t Judge the Realm by the NAME
Question: Apakah tidak ada diantara mereka yang merasa heran, allah digambarkan begitu toleran terhadap penjahat dengan memasukkan para manusia sampah dan beracun tersebut ke surga untuk disatukan dengan allah, akan tetapi disaat bersamaan allah juga digambarkan sebagai sosok yang begitu jahat dan pendendam dengan memasukkan ke api neraka orang-orang yang sekalipun wataknya baik namun adalah kaum “non” atau sekadar karena ateis?
Sungguh saya berbahagia,
Dapat bahagia cukup dengan meminum
air putih,
Tanpa perlu meminum alkohol,
Maupun minuman kimia bermerek
lainnya.
Ibarat seekor kelinci,
Yang sudah cukup bahagia dapat
memakan wortel yang banyak tumbuh di alam,
Tanpa perlu menjadi predator bagi kehidupan lainnya.
Bukti bahwa Umat Muslim BUTA AKSARA
Question: Apa betul ada ayat di alquran, kitab agamanya orang islam, yang berisi wahyu allah bahwa allah mengutus setan-setan untuk menggoda manusia kafir? Jika betul demikian, maka mengapa justru umat islam itu sendiri yang selama ini doanya ialah memohon pengampunan dosa (“O Allah, ampunilah dosa-dosa kami!”)? Bukankah antara “berbuat dosa-dosa akibat digoda dan tergoda oleh setan” dan “pengampunan dosa”, sifatnya saling bundling satu sama lainnya ibarat pasta gigi dan sikat gigi? Bukankah itu artinya umat islam adalah kafir itu sendiri, alias kafir teriak kafir?
Empati Manusia, Penuh Kepalsuan. Empati AI (Mesin Kecerdasan Buatan) bisa Lebih Diandalkan sebagai “Teman untuk Sahabat Curhat”
Question: Ini fenomena apa ya, mengapa pemimpin negara kita mulai berpikir untuk menggantikan para “civil servant” alias aparatur sipil negara (ASN) ataupun Pegawai Negeri Sipil (PNS) dengan aplikasi, robot, maupun AI (kecerdasan buatan, artificial intelligence)? Bukankah di negeri kita ini tidak pernah kekurangan “agamais” maupun aparatur yang rajin beribadah dan mengaku ber-Tuhan? Menteri keuangan mulai berwacana agar petugas pada bea cukai digantikan oleh robot dan AI saja. Kepala POLRI lebih senang menerapkan ETLE (Elektronic Traffic Law Enforcement) ketimbang polisi lalu lintas dalam menilang pengendara. Di Kantor Pertanahan banyak layanan yang mulai digantikan dari semula pelayanan tatap-muka di loket-loket pelayanan dengan pelayanan berbasis aplikasi “online” nir-tatap-muka. Bahkan di luar negeri, sudah ada menteri dibidang urusan pengadaan barang dan jasa yang berupa sosok AI, alias bukan “menteri manusia”.
KAFIR Teriak KAFIR, Maling Teriak Maling, Itulah Ciri Khas Muslim Tipikal Islam
Question: Sering orang-orang muslim menghardik kaum nonmuslim sebagai kafir alias mengkafir-kafirkan. Memangnya apa yang dimaksud dengan kafir?
Umat Agama Samawi Berjalan di Tempat, Sebanyak Apapun Ritual
Ibadah Mereka, Divonis Hidup dan Mati sebagai PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA
alias Menjelma KORUPTOR DOSA
Dogma PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA membuat umat Agama Samawi Tidak Merasa Perlu untuk Tobat
Question: Yang paling tidak saya mengerti dari jalan pikiran umat agama samawi, ini dan itu disebut “dilarang Allah”, ini dan itu dosa, ini dan itu haram, ini dan itu najis. Mengharam-halal-kan segala sesuatunya, seolah-olah sebagai kaum paling superior alias “polisi moral” yang berhak menghakimi kaum lainnya. Mereka menyuruh orang lain untuk bertobat, bicara tentang apa itu akhlak dan moral, namun disaat bersamaan mereka sendiri setiap harinya melakukan ritual doa permohonan pengampunan dosa secara vulgar lewat pengeras suara alias mempertontonkan “aurat terbesar” ke publik berupa berbuat dosa sebelum kemudian memohon pengampunan terhadap dosa-dosa tersebut. Bila ritual ibadah mereka untuk seumur hidupnya, telah ternyata ialah doa-doa pengharapan pengampunan dosa, lalu dimana letak “tobat”-nya karena kembali mengulangi dosa-dosa yang sama maupun dosa-dosa bari lainnya untuk kemudian dimohonkan pengampunan atau penghapusan?
Ideologi “BERBUAT DOSA-DOSA UNTUK DIHAPUSKAN” Sifatnya
Bundling dengan Dogma “PENGAMPUNAN / PENGHAPUSAN DOSA”, Ibarat Pasta Gigi dan
Sikat GIgi
Muhammad Nabi Rasul Allah Mabuk dan Kecanduan PENGHAPUSAN DOSA, sekalipun Kita Tahu bahwa hanya Seorang KORUPTOR DOSA yang Butuh PENGAMPUNAN DOSA
Question: Umat agama islam membuat klaim, klaim yang tidak ada dasar sumber rujukan otentiknya, bahwa muslim yang dihapus dosa-dosanya oleh Allah akan terlebih dahulu dimasukkan ke neraka dan di-bejek-bejek di sana, sebelum kemudian dimasukkan ke sorga kerajaan Allah. Apakah ada cacat logika pada klaim para muslim yang membela dogma agamanya tentang justifikasi pengampunan dosa demikian?
Ketika PENDOSA PECANDU PENGHAPUSAN DOSA justru Meng-KAFIR-KAFIR-kan Orang Baik dan Kaum Ksatria yang Berani Bertanggung-Jawab Atas Perbuatan-Perbuatannya Sendiri
Question: Saya heran, begitu banyak orang jahat yang jahatnya kelewatan karena begitu jahat, di luar rumah maupu di dalam rumah kita sendiri, berkeliaran mencari mangsa. Orang jujur, lebih sukar dicari, karena kita bisa menemukan emas di toko-toko pada pasar tradisional dekat rumah, tapi orang jujur kebanyakan hanya klaim di mulut atau persona (topeng) belaka. Tapi tetap saja, banyak umat manusia mabuk memuja-muji Allah setinggi langit, sekalipun si Allah itu-lah yang telah menciptakan manusia-manusia jahat lengkap dengan software pengisi otak yang bernama sifat jahatnya tersebut. Mengapa demikian?
Agama DUNGU untuk Orang DUNGU, Agama DOSA bagi PENDOSA-PENGECUT yang Berdelusi Masuk Surga Setelah Melakukan Banyak Perbuatan Jahat namun Minim Tanggung-Jawab
Tidak Ada “Kembali ke Fitri” Setelah Mencandu
“PENGHAPUSAN DOSA” (Ideologi KORUP), yang Ada justru Menjelma “KORUPTOR DOSA”
Question: Itu orang-orang muslim, yang memeluk agama “bumi datar”, apa tidak pernah belajar pelajaran geografi di sekolah? Kan ada yang namanya globe, yakni miniatur bola dunia yang bundar bentuknya. Ketika kita memutar 180 derajat baik secara melintang maupun membujur, kita akan menemukan titik lokasi dimana sisi sebaliknya dari telak kabbah yang disembah sujud oleh para muslim. Namun, dimana pun para muslim berada di penjuru dunia, tetap saja, ketika kepala mereka sujud ke arah kabbah, bokong mereka disaat bersamaan menghadap kabah juga, karena dunia ini BUNDAR. Bukankah itu bukti, islam bertentangan dengan sains, dan bahwa nabi pencipta agama islam itu berdelusi bahwa planet bernama bumi ini adalah datar atau flat seperti piring?
Ideologi Korup “PENGHAPUSAN DOSA” Jauh Lebih Merusak dan Adiktif Membuat Kecanduan daripada Narkotika
Ideologi KORUP Dibalik Dogma Agama Samawi
yang Meng-HALAL-kan “PENGHAPUSAN DOSA”, bahkan Lebih Berbahaya daripada
Ideologi Komun!sme
Question: Adakah yang lebih adiktif dan lebih membuat kecanduan serta lebih merusak daripada tembakau, alkohol, maupun narkotika?
Bila Sudah Tahu dan Sadar bahwa Hidup adalah Dukkha, mengapa Masih juga Melahirkan Anak ke Dunia ini untuk Turut Menderita?
Question: Yang membuat saya heran selama ini, apakah ada orang yang tidak menyadari dan mengetahui bahwa hidup atau kehidupan ini sejatinya adalah duka, dimana setiap makhluk yang berkondisi terikat oleh siklus sakit—tua—meninggal dunia? Segalanya berubah, tidak ada yang bisa digenggam erat, bahkan seseorang cenderung untuk menyakiti dirinya sendiri, berpisah dengan yang dicintai, berkumpul dengan yang dibenci, apakah belum cukup membuktikan bahwa hidup ini adalah duka? Pertanyaannya, jika sudah tahu bahwa hidup ini adalah duka, mengapa juga mereka masih menikah dan melahirkan anak-anak yang akan mengalami duka di dunia ini?
Bung, hanya PENDOSA yang Butuh Ideologi KORUP Bernama “PENGHAPUSAN DOSA” bagi “KORUPTOR DOSA”
Question: Iming-iming paling utama yang diberikan oleh Allah, ialah pengampunan atau penebusan dosa, agar umat manusia menghamba kepada Allah. Menjadikan kita patut bertanya, sebenarnya Allah bermusuhan dan berperang dengan setan (evil) atau justru sebaliknya, bermufakat, merangkul, dan bekerjasama dengan setan dalam rangka mengecoh serta memperbudak umat manusia?
Tuhan menurunkan wahyunya
kepada umat manusia,
“Saya adalah
Sang PENCIPTA, menciptakan bumi dan alam semesta serta segala isinya.”
Selayaknya bagi
kita,
Umat manusia,
Untuk mulai berani menjawab
tegas,
“SO WHAT, gitu loh?”
Mengapa Dana Berupa Dhamma merupakan Dana yang Tertinggi diantara Jenis-Jenis Dana lainnya?
Ada banyak kriteria atau jenis dana yang dikenal dalam Buddhisme, mulai dari dana berupa donasi uang, dana tenaga, dana organ tubuh seperti donor darah, dana pikiran, dana “senyum”, dana welas-asih (dana dengan meditasi ber-objek welas-asih yang dipancarkan ke orang lain), hingga dana Dhamma (ajaran kebenaran dan kebajikan).